Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

2 Mei 2011

Sajak-Sajak dalam Antologi Puisi "Hikayat Mengaji"







Malam yang Lupa

Kita telah datang pada riak sungai dan kekal batu
Segala tumpah di sini
Juga tangis sepenuh rindu
Ah,.. aku mendengar detak-detak di jantung waktu
Menyebut namamu
Lalu kita serupa daun-daun yang hanyut ke hilir
Sesekali kita lupa
Ke mana hendak bermuara
Eloprogo, 17/07/09


Wanita di Bawah Langit

Dan kita selalu mengumpat matahari yang terang kusam
Karena muara sungai-sungai selalu habis sebelum sempat menggenang
Maka di atas batu-batu kali telah kita tulis semacam mantra
Tenung yang kejam untuk musim yang tak reda,
Lihatlah kekal yang selalu saja lindap
Pada dedaun yang kuning matang
Ranting-ranting yang  telah menyerah di ujung keramat
Sebelum bisik-bisik malaikat
Curiga dan berpicing mata

Kita kan bersorak pada maghrib yang runtuh
Sedang daun-daun yang jatuh selalu habis dan tak pernah utuh
“Itulah takdir” katamu
Kukulum habis rembulan perawan yang jatuh di betismu
Sedang kita tak pernah sekejap saja menunduk
Dan masih saja kulihat kepal tanganmu tegak ke langit
Mengutuki gaib yang curiga
Kita terlampau waspada
Semarang,30/11/08

Sketsa Malam dan Rumah Bulan

Sebelum dulu ku sebut namamu, adalah malam yang gemeretak dan mengeja nama-nama di ruas keningku. Kini ada halte yang rindu kau duduki juga anjing yang bersaksi pada kelancangan kita saat berdoa. Berpura-pura tak tahu tak mengerti, sedang dada yang laut tak lepas-lepas melembar ombak, mengiba di sisi sunyi yang sembunyi.
Munafik!! Kitalah pendusta lewat puisi-puisi yang buta.

Pada dinding kamar telah ku lukis sketsa rumahmu, bergambar bulan perak, cahaya pasi. Serupa wajahmu. Dan malam yang kau duduki, adalah malam itu juga yang mencatat riwayat kelahiranmu, kelahiranku.
Malam memang selalu lapang untuk para pendosa. Mereka tertawa, kita membuang muka, mencatat kemalangan yang purba. Ah, betapa malang!!

Di langit bulan perak jingga. Ada yang pulang lebih dulu, ada yang menunggu.


Semarang, 01/05/09

Sketsa Daun-Daun Jatuh

Aku telah tahu sejak dulu. Bahwa perjumpaan kita hanya akan menuju pada pengkhianatan, dengan seikat mawar yang kuncup di jemarimu. Inilah sketsa daun-daun jatuh. Kita mencuri segala angin untuk runtuh. Maka tanah memanglah tempat paling terpuji bagi kita. Para penipu yang lupa pada muasalnya. Sedang matahari kian terik, kulit pohon kian bersisik. Kerak kering mengeras, lalu pecah. Dan kita meruntuh secepat bayang-bayang  mengendap. Lesap dan lindap.
Daun itu tanggal tepat sebelum kita tersadar. Setelahnya hanya ada sesal. Tapi pisau itu telah sewarna darah. Dan malam telah melumat segala percakapan. Sekarang kita tak lagi sanggup mereka-reka karena kesetiaan atau pengkhianatan akan menuju pada muaranya. 
Kini akupun mulai tak perduli pada perbincangan yang makin memuakkan. Tapi malam pasti datang, dengan dongeng peri-peri bersayap daun. Mengepakkankepalamu tinggi-tinggi. Lalu tepat saat ia akan menciummu, kau akan mulai bertanya tentang siapa dan kenapa?
Aku jadi lupa berdoa dan kau mulai menangisi kemalanganmu yang harus mencintaiku dengan seikat mawar dan pisau berwarna darah. Daun-daun terjatuh. Wajah kita tanggal seperti para leluhur. Orang-orang yang kalah pada kealphaan. Para penipu yang takut merindu.
Ah,.. malam memang selalu diisi hantu-hantu yang selalu mengutuk. Dan kita masih saja mencuri segala angin untuk kembali runtuh, jatuh. Bermuara pada sketsa yang kita lupa…

Semarang, 25/06/09


Saat Mengaji

Hijaiyah Awal

dan bulan merah di dadamu, saat ku genggam sepasang aksara
Alif yang jatuh di reranting tak sempat kita eja
Nun panjang dari luka yang remang
aku mengaji dalam tembang-tembang ganjil
di sela almanak sebelum jatuh adalah tiada
yang kekal hanyalah tanggal
yang sesaat adalah nyata
maka bulan tak habis di sini
maka roh-roh adalah dzat yang sepi
ku terima mereka menetap di jisimku
sebagai musafir-musafir yang menagih janji
kelembak dupa dan doa-doa dihabisi di sini
dadaku rumah sunyi


Hijaiyah Akhir

dan tembangkan Nun mu dalam-dalam
agar tegak Alif di tubuhku
kitalah yang samar sebenarnya
karena gaib adalah nyata
tapi tak ada lolong anjing di kolong ranjang
karena aku yang menjelma bayang-bayang
saat santri-santri mengaji kitab kuning
imriti dan nahwu sorob
kita belajar membaca yang tak pernah usai
langit di atas kepala berwarna jelaga
tak lekang, tak rindang
hitam putih sepasang
kita gamang


Ayat Pembuka

dan tiba-tiba detak udara melemah di bawah lampu
saat kupu-kupu berjatuhan serupa gerimis yang matang
kau membatu di sudut gang,
para pendusta terbangun dan menari di makam
menggenggam bulan tembaga
mengarak berhala berwajah kembar tiga
sebelum akhirnya ibrahim mengalungkan sebilah kapak di leher kita


Ayat Api

dan masih kita genggam kitab itu tapi tak hendak kita baca isinya
karena sekeping kaca di dalam hanya memantulkan luka-luka
sayatan yang dalam dari huruf-huruf purba
Sodom dan Gomorah
malaikat-malaikat membuang muka dari nama sebuah kota
seorang nabi menziarahi dendam di atas bukit
ada sungai di bawah kota
ada telaga di mata
ada api di jantungnya
ada kutuk menebar tiada
seorang bocah lahir dari rahim batu
bertulis Kaf Fa’ Ro’ di keningnya


Ayat Tengah

dan gaib tak tahu hendak menjelma apa pada malam di tengah gurun
lelaki bertongkat kayu mengacungkan jarinya ke langit
laut menjadi batu
sungai-sungai mengalirkan batu
angin-angin menebar batu
gerimis dari rintik-rintik batu
orang-orang mencetak tuhan dari batu
berwajah lembu


Ayat Luka

seorang gadis perawan melahirkan bintang kembara dari rahimnya
muara angin-angin tak berumah
luka dari huruf-huruf ganjil yang tak ramah
tapi kita tetap sesat di rumah sendiri
menatap timur kepada barat
membaca langit di atas tanah
dan tiba-tiba harus menyerah di atas sajadah
“lihat, seorang di salib altarnya sendiri saat requiem dan misa arwah”
sedang langit di atas betapa nisbi
tak terjamah


Ayat Muara

seorang lelaki melemparku ke dalam kitab abu-abu
bahkan padanya aku tak tahu hendak ke mana puisi ini menuju
Semarang, 3/12/08

3 komentar:

MAS DOT mengatakan...

iya-iya... kaf fa' ro' kwe ndu...

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

iyo... kaf fa' ro' y gen sing ngelokne mung kw atik dod...

penulis sederhana mengatakan...

weh jan tenan, uapik mas sing Hijaiayah,...