Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 02 November 2009

Malioboro, Saat Subuh Hampir Habis

sampai harus kita habisi subuh di sini
sudut kota
monumen atas nama sejarah
terukir lewat tinta darah
dan pada perjalananlah
kita terlempar di sini
malioboro
aku kembali
di lindap pendar lampu
dan malam menggeliat di atas bangku
sebelum khatam kugenapi riwayat
kisah tapak kakiku yang berkarat
orang-orang dengan wajah memucat
menyapa dalam tatap jarak keasingan
kamilah kini yang memendam kesumat

malioboro
di sudut wajahmu pernah kucatat
di sinilah peziarah tumpah rindunya
dan kami kembali menggenapi sepi
dalam sorak dan luka
tapi wajahmu itu tetap saja sunyi
kukuliti di sudut sepi

Jogjakarta, 01/11/09

Jumat, 30 Oktober 2009

Sketsa Wanita Bermata Kaca

Sampai harus kususun
pecahan-pecahan kaca
menjadi serupa
matamu


Entah sampai huruf ke berapa telah kuulang tiap percakapan. sampai rindu memang benar-benar selesai. Kau telah mampu menghentikan tangis dan matamu mengisyaratkan malam retak dengan sepi yang menggait punggung kita tiba-tiba, sampai harus saling lekat dan ku sandarkan kepalaku di kepalamu.

Seperti apa sebuah perjalanan telah melaju atas nama kita? dan gaib hanya kita sepakati dengan anggukan dan air mata. Di matamu, pernah dulu aku berkaca. Melihat tubuhku sepotong-sepotong. Tanganku, dadaku, punggungku, kepalaku lalu kau susun rapi menjadi utuh. Dan kukenakan kembali tubuh yang rapuh. Matamu itukah yang mengisyaratkat waktu berhenti dan detak jantungku seperti habis dilumat sepi?

Percakapan kita memang sampai karena memang harus kita akhiri dan matamu yang dulu kaca, retak dalam malam yang kian buta, berkaca-kaca. Dan kau kembali berjalan dengan mengemasi rindu yang selesai tiba-tiba. Simpanlah barangkali menjadi peta menuju kampung yang lelah menunggu kepulanganmu, atau larungkanlah ke sungai biar hilir menggenapi segala gaib yang mengait nama kita yang ganjil dan namaku sampai juga ke muara, semoga.

Kini kubiarkan kau berjalan dengan mimpi yang kau tepis. Bahkan sejak mula aku tahu kau takut merindukanku, maka kau tulis saja namaku di tanah biar disapu angin yang resah. Tapi aku berbelok dengan masih mengenangmu karena perjalanan takkan mampu dicuri lewat apapun. Dan aku tak takut menjadi orang yang kehilangan. Karena begitulah semestinya hidup. Di garis-garis tangan, tersusun samar sketsa wajah yang patah. Dan pecahan kaca dari matamu ku simpan di saku baju, barang kali kelak aku jatuh dan merindukan lagi tatap matamu.

Semarang, 30/10/09

Senin, 26 Oktober 2009

Gerbang Kota

Pada gerbang kota
adalah waktu yang rapat
dan debu-debu sesat di pelupuk mata
jalanan memucat
lewat senja dengan garis sewarna jelaga
di atas trotoar
orang-orang memangkas nasib
sebagian tertawa
sebagian memicing mata

Tiang penyangga dari batu dan baja
kian berkarat dan melayu
tak habis mencatat
usia waktu

Semarang, 26/10/2009

Selasa, 20 Oktober 2009

Peta di Kolong Ranjang

aku jadi ingin rebah di kolong ranjang saja
sunyi dan kita lebih menerima bahwa kita memang sendiri
biar cahaya menyeruak di ranjang dan bantal
aku tak perduli jika luka makin mengental

aku ingin tidur di kolong ranjang saja
memintal benang-benang sepi
menjadi peta menuju kotamu
yang kerap ku kunjungi dalam mimpi

Semarang, 19 oktober 2009

Sabtu, 03 Oktober 2009

Sajak Tanah Patah

tanah patah
seperti tubuh kami
dalam kedukaan
padang, pariaman

seperti apa isyarat harus merupa dalam ingatan
sedang segala laju musim takkan pernah mampu kita ramalkan
maka sekali lagi ku sebut namamu
dalam rapal-rapal yang kadang tak kami tahu
terduduk
dengan jari menunjuk
langit sepi
segala menepi di batas waktu
kita khatam berdoa
selesai ayat luka

Jika sajak-sajak adalah doa
ku harap sampai
dan aku terima
riwayat lepas merupa sakit
wajah kamilah yang sakit
dalam kedukaan
padang, pariaman.

Semarang, 03/10/09