Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

25 Mei 2012

yang bisa diceritakan pada sebuah bangku dan gerbong yang melaju

Serupa peron di sebuah stasiun yang ramai, orang-orang mengantri tiket, membaca papan-papan pengumuman, melihat jam tangan, duduk di bangku tunggu dan membaca koran. Orang-orang menunggu kedatangan kereta, sebuah jemputan yang mengantarkan pada kota yang kadang sama sekali tak pernah sanggup kita reka serupa apa wajahnya, begitupun denganku. Semua, sama menunggu.

Ketika sebuah kereta datang hampir dari kami semua berjejalan. Memasuki pintu kereta yang sempit, menyusuri lorong-lorong penuh bangku kosong. Sebuah ruang di mana sepi dan ramai saling jalin satu sama lain, berbenturan. Dan dengan sengaja kami harapkan untuk datang. Mengangkut peristiwa-peristiwa, kenangan, nama-nama, tanda-tanda, pertemuan, kehilangan dan harapan. Segalanya diberangkatkan, menuju kota yang terlahir di antara kami. Kota yang tumbuh di gerbong-gerbong kereta.

Saya menyusuri gerbong yang serupa lorong kota yang kumuh demi sebuah bangku kosong untuk istirah dan membiarkan kereta ini mengangkut kami entah ke mana. Pada gerbong pertama, tampak orang-orang berebut tempat duduk. Ada kakek tua dengan tongkat jalan dan pipa cangklong di tangannya berjalan setengah cepat _meskipun tetap saja lambat_ tampak mengumpat dan  marah-marah karena tempat duduk yang hampir diduduki di serobot orang. Ada bayi-bayi menangis karena haus dan kepanasan sedang ibunya tengah melirik lelaki tampan di bangku seberang. Orang-orang membawa tas-tas kecil besar dan barang bawaan. Gerbong yang semula sepi jadi sesak pengap dengan benda-benda, dengan tubuh-tubuh, tanda-tanda, suara-suara ramai riuh. Semua orang menggerutu, melepaskan demam dan kecemasan. Yang telah duduk mapan mencari-cari percakapan. Menyusun peristiwa untuk kenangan.

Tampak seorang lelaki telah duduk menyilangkan kaki dan membaca halaman-halaman koran dengan murung. Ia menulis sajak dan membacakannya dengan hening. Seorang lelaki lain di seberang tempat duduknya membalas sajaknya dengan melempar sajak-sajak lain dan botol-botol bir. Orang-orang lain yang melihat mereka tiba-tiba berteriak dan mengumpati mereka berdua. “Dasar penyair gila!” kata seorang lelaki gemuk botak dengan gulungan koran yang teracungkan. “Kalo mau baca puisi di panggung, Tuan. Bukan di sini. Tak semua orang suka kata-kata puitis, kata-kata gombal yang melenakan para perempuan” balas seorang wanita setengah baya. “Kawan, buatkan aku puisi cinta untuk seorang gadis yang akan kunikahi bulan depan” kata seorang lelaki lain berambut cepak dan berperawakan seperti tentara.

Mereka berdua tetap tak perduli. Mereka dengan berdiri di atas tempat duduknya tetap saling melempar sajak. Orang-orang yang tak suka melempari mereka dengan benda-benda yang ada. Sepatu, sandal, tas, koran, dompet, pisau jagal, belati, caci maki, batu-batu, baju-baju, telor busuk, puntung rokok, bunga, api yang menyala dan lain sebagainya. Semua orang jadi saling melempar. Sisi yang satu melempar benda-benda dan kebencian, sisi lain melempar sajak-sajak dan kerinduan. Gerbong jadi makin riuh, pengap dan berantakan. Dua lelaki penyair itu tetap melempar kata demi kata, membenamkan sepi demi sepi ke dada mereka. Lantas mereka saling melukis di tubuh masing-masing dengan pena, air mata dan pecahan botol-botol bir.

Saya bersusah payah keluar dari gerbong riuh dan berantakan itu. Melewati tubuh-tubuh yang berdesakan. Setelah melewati gerbong pertama, di gerbong berikutnya saya melihat orang-orang tengah sibuk menata gerbong dengan kain penuh warna, dengan lampu-lampu meriap yang menyesakkan dada. Saya mendengar seorang wanita dengan senyumnya yang tentram menembang jawa, begitu lirih, tajam dan menyentuh.

Seorang lelaki tua dengan secangkir kopi dan matanya yang teduh membaca mantra dan doa-doa. “berbahagialah semuanya di sini. berangkatkanlah duka dan kecemasan kami. cukupkanlah atas semuanya” begitulah rapalnya.

Mereka ternyata tengah menyiapkan sebuah panggung pementasan teater di dalam gerbong. Saya melihat lakon-lakon yang dipentaskan. Mendengar dialog-dialog tumpang tindih, dan tumpukan naskah yang berserakan. Sebagian dari mereka ada yang saling tertawa-tawa dan bahagia. Sebagian lain membatu begitu pucat. Mereka bertirakat, merayakan kesedihan dan kegembiraan dengan cara masing-masing. Melakoni kehidupan kecil di sebuah gerbong dengan suka cita dengan kesedihan yang tabah. Di sudut lain pada bagian gerbong ini, orang-orang berkolaborasi memainkan seruling, gitar, jimbe, triangle, kenong, bonang, siter, harmonika, biola. Menggenapi lelakon dengan begitu khidmad. Melahirkan pementasan-pementasan kecil di dalam gerbong kereta. Bersedih dan berbahagia dalam waktu bersamaan. Pada akhirnya, menangis atau tertawa memang sama saja.

Dalam hati saya bertanya-tanya; “Ini kereta macam apa sebenarnya?”

Di jendela, saya melihat rel kereta yang terus jauh, terus memanjang. Menembus hutan, menembus jantung kota, menembus langit, menembus mata, menembus dada. Di luar, hujan mulai berjatuhan, membikin gambar di jendela dengan wajah kabut berwarna basah . Aku terus berlalu, mencari sebuah bangku yang hampir semuanya telah terisi, dan gerbong-gerbong penuh dengan tubuh-tubuh yang gaduh.

Melewati gerbong berikutnya, tiba-tiba saya mencium bau garam. Saya berhenti, memegang sebuah batang baja untuk pegangan, memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam. Saya jadi teringat laut dan kampung halaman. Teringat para nelayan yang menjaring doa di laut. Seorang ibu menyalakan api di tungku, merebus air mata anak-anaknya, menanak kecemasan suaminya saat harga beras melambung lagi, saat anak-anak tamat sekolah dan mesti melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, saat bocah-bocah lebih senang nonton televisi daripada mengaji. Saya teringat teman-teman yang menyalakan lilin dan membaca sajak saat malam begitu purnama di dada kami, di sebuah stasiun lama yang lama tak difungsikan lagi. Menyuarakan kekalahan-kekalahan orang pinggiran. Diam-diam mencatat kerinduan di tembok-tempok usang rumah cina yang akan segera dirubuhkan untuk pelebaran jalan. Ingatan tentang sebuah klenteng tua _yang konon didirikan untuk mengenang perjuangan tiga tokoh pahlawan yang gugur saat membela tanah pusaka dari penjajahan Belanda_ dan di seberang ada sebuah warung kopi sederhana. Di sana orang-orang membatik rokok, meleletkan ampas kopi ke batang-batang rokok dan membakarnya lantas berbincang tentang harga kopi yang naik lagi karena BBM juga terus naik. Seorang bercerita tentang istri dan anaknya yang masuk rumah sakit sedang ia sendiri terus saja terjerat utang.

Gerbong ini benar-benar membawa kerinduan saya pada kampung halaman. Tentang orang-orang berbincang tentang sejarah kota, dan kami yang tak pernah tahu sejarah kami sendiri. Hirau, abai, tak perduli tentang maksud kelahiran itu sendiri. Ada yang menjaga, merawat, melahirkan riwayat. Di bagian lain ada meruntuhkannya. Kami mengumpulkan batu-batu arca leluhur yang di-pecah-kan karena berdiri di atas tanah pertambangan lantas kami menyusun kembali batu-batu itu menjadi arca kecil berwajah serupa kami. Perlahan-lahan, kota kelahiran kami ini meruntuhkan perasaan kami, anak-anaknya sendiri. Diam-diam kami bersepakat untuk secara diam-diam tetap mencintai kota ini.

Lintasan ingatan saya menuju rumah, kepada nenek, kepada bapak ibu dan saudara yang begitu dekat. Ini adalah rel kepulangan barangkali. Pulang menuju sebuah kolong ranjang di rumah untuk meringkuk, menarik diri. Memilih hidup atau mati. Bayi-bayi yang mengubur dirinya di kamar, malam tidur di atas ranjang, pagi-pagi sudah berkeliaran di kolong ranjang. Atau setan-setan yang muncul dari kolong ranjang. Saat bocah-bocah mulai belajar tidur sendiri, di kamarnya sendiri. Dari kolong ranjang keluarlah potongan tangan, potongan kaki, kepala, telinga, tubuh-tubuh temutilasi, peri-peri kecil, atau tuhan yang kesepian. Tentang wajah kakek yang meninggal, tubuhnya berselimutkan kain batik di atas ranjang. Di kolong ranjang kami menyalakan batang api. "agar tak tersesat jalan kepulangannya, agar tak gelap di alam sana".

“Kota macam apa yang lahir dari kolong ranjang para bayi dan orang-orang mati?”

Saya berusaha keras menyadarkan diri. Ini hanya kenangan, hanya bebayang yang tak bertuan. Saya harus
kembali dan sekarang saya jadi benar-benar tak mengerti apa yang tengah terjadi di gerbong-gerbong kereta ini dan kenapa mesti menaikinya. Mungkin hasrat untuk pulang atau mencari seseorang yang berjarak begitu jauhnya dan saya membutuhkan angkutan bernama kereta untuk sampai ke sana. Entahlah. Saya hanya berjalan, terus saja berjalan. Melewati gerbong demi gerbong, melihat orang-orang melahirkan kotanya masing-masing, memiliki harapannya masing-masing, memiliki riwayatnya masing-masing. Ada yang saling bertemu di sana dan akhirnya menjadi kekasih, ada yang melahirkan pertikaian lantas berusaha keras saling menikam, ada yang mencoba saling mensiasati untuk mendapat bangku atau kolongan tempat tas-tas bawaan mesti ditempatkan. Dan saya terus saja berlalu, seperti mereka, bersiasat mencari bangku.

Mereka, orang-orang di gerbong yang entah kenapa begitu ingin saya kenali _yang sebenarnya mungkin juga telah saya kenali. Kami melakoni keadaan sebagai penumpang dengan sederhana, kami bersedih dan berbahagia dengan sederhana, dengan cara-cara yang barangkali hanya dapat dimengerti oleh kami sendiri. Saling menegur, saling tersenyum ramah, saling memasuki kota-kota yang tak sengaja kami bawa, bercinta, mengumpat, memendam, menikam, mencintai, dan saling meninggalkan dengan begitu sederhana.

Di luar jendela, wajah-wajah berlalu. Di dalam keretapun kami terus hadir dan berlalu. Entah sampai pada gerbong yang ke berapa saya berjalan. Pada sebuah gerbong yang telah tenang, di kejauhan tampak sebuah bangku kosong yang tak berpenghuni sementara orang-orang telah menduduki bangkunya masing-masing. Mereka telah saling mengenali dan mengisi. Sebagian saling tak perduli. Saya bergegas menuju bangku tak berpenghuni itu. Di sebelah bangku kosong itu, telah ada seorang gadis muda dengan earphone di telinganya, dan sedang menatap halaman-halaman sebuah buku. Ketika saya datang, sepintas ia melihat ke arahku, tersenyum, menggeser tubuhnya ke sudut dan mempersilahkanku untuk duduk. Aku memasukkan tas bawaan ke rak atas sembari melihat kembali ke gerbong-gerbong di belakang yang telah kulewati. Mengenali kembali wajah orang-orang yang secara sepintas telah kutemui di gerbong kereta termasuk wajah gadis muda yang tengah membaca buku bacaan dengan earphone di telinganya dan sekarang saya telah duduk di sebelahnya, menempatkan punggung yang lelah dan melihat ke luar jendela. Melihat bangunan-bangunan berlalu, melihat wajah-wajah yang sejenak tadi saya kenali bergegas datang di kaca jendela, berlesatan dan menghilang. Saya mencoba beralih dengan melihat wajah gadis di sebelah. Ia tak perduli, matanya menatap buku, telinganya mendengarkan suara-suara yang diciptakan sebuah kotak mesin kecil canggih bernama aneh ; i-pod, fikirannya menjelajahi dunia yang dibangun oleh buku bacaannya dan tak perduli pada apapun lagi termasuk padaku yang diam-diam mencuri matanya.

Entah kenapa, ada sebuah perasaan rindu yang jauh. Seperti kekasih yang terlalu lama memendam rindu, sampai lupa rindu ini mesti beralamat pada siapa. Atau barangkali seperti bertemu kawan jauh dan lama tak jumpa. Mungkin kita telah saling mengenal jauh sebelum kita bertemu. Ada kangen seketika, datang dan meledak-ledak. Ingin menegur dan menyapanya, tapi tak mampu. Hanya diam-diam mencuri kedalaman matanya yang serupa puisi, yang menghisap kuat lantas menjatuhkanku teramat keras. Aduh!! rasanya seperti mengalami amnesia akut, hilang ingatan, sampai tak ada apapun lagi yang dapat  saya ingat. Tak ada apa-apa lagi untuk kukenali. Hanya matanya yang berkabut pekat dan dadaku yang asing, sebegitu asing dan saya tetap tak sanggup menjangkaunya.

Sampai akhirnya suara peluit kereta yang keras dan panjang tiba-tiba memenuhi telinga. Menyadarkanku pada wilayah kesadaran yang lain. Segalanya hilang dan berganti rupa, membentuk tubuhnya sendiri. Tiba-tiba telah tak ada lagi wajah gadis itu, tak ada matanya yang dalam itu. Tak ada lagi bangku-bangku, tak ada jendela, tak ada gerbong-gerbong, tak ada rel ataupun kereta. Tak ada wajah orang-orang yang sepintas aku temui, tak ada siapapun atau apapun lagi. Tetapi punggung dan tubuhku masih tetap terduduk di sebuah bangku, hanya saja bukan lagi di bangku kereta melainkan di sebuah bangku tunggu di sebuah peron yang pucat dengan orang-orang yang mengantri di loket, dengan orang-orang yang resah melihat jam tangan, melihat papan pengumuman, membaca koran-koran, riuh sesak dengan tubuh dan percakapan-percakapan, teriakan, umpatan, keluh kesah sampai sebuah kereta datang dan berhenti tepat di depan tempatku terduduk.

Mereka, orang-orang yang ada di peron ini adalah orang-orang yang telah kutemui secara sepintas di dalam gerbong-gerbong kereta sejenak tadi, di sebuah kesadaran lain. Dan sekarang, mereka telah hadir kembali di sebuah peron yang sama, pada kesempatan yang sama. Mereka masih hanya berlintasan, saling berdesakan, saling menuju, saling menunggu dan kami masih tetap saling tak mengenali. Seorang wanita dengan buku bacaan dan earphone di telinganya melewatiku dengan setengah berlari menuju kereta yang datang. Aku terdiam, menjangkaunya dalam pandangan sampai akhirnya ia turut hilang berdesakan dengan tubuh-tubuh yang lain. Aku tetap terduduk dan tak sekalipun beranjak, melihat sekitaran, melihat peristiwa-peristiwa tumbuh dengan dada yang sangat asing.

Lamat-lamat peron mulai sepi, orang-orang telah bergegas pergi. Sementara kereta telah semakin ramai dan penuh. Saya melihat kereta itu berangkat, pelan-pelan menjauh. Sampai akhirnya tatapan mata saya tertuju di sebuah jendela gerbong paling belakang. Mengamati sesosok tubuh di tengah-tengah ribuan tubuh. Seorang lelaki, dengan ransel di punggungnya, bertubuh seperti tubuhku, berwajah seperti wajahku sedang berjalan berdesak-desakan di gerbong kereta. Melihat-lihat sekitaran, mencari bangku kosong barangkali.

Sepintas ia menatap jendela, sepintas juga ia melihat ke arahku lantas kembali berpaling. Berdesakan, bererjejal-jejalan dan hilang di tengah riuh para penumpang.

Entahlah, rasa-rasanya ada yang turut pergi dari tubuhku ketika melihat kereta itu mulai pergi, berjalan cepat dan terus menjauh. Dalam hati tanpa sadar saya berbisik;

“Hati-hati di jalan, Bung. Selamat mencari, selamat menemukan dan berbahagialah”.

Aku tetap terduduk dan melihat kereta itu menjauh. Aku mungkin akan tetap di sini, menunggu dan tetap menunggu. Entah menunggu apa. Barangkali menunggu kereta selanjutnya, atau menunggu pertemuan dan kehilangan selanjutnya...

Semarang, 26 April 2012


2 komentar:

Ahmad flamboyant mengatakan...

ceritamu begitu runut mas,...

ketika membaca, seakan-akan aku sendiri ada dalam cerita. salut

Putik Kamboja mengatakan...

makasih mas flamboyan... :)