Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

20 Januari 2012

suatu pagi di tepi jalan kota lamongan



pagi yang lahir dari lengking terompet, balon-balon sabun dan kecemasan yang membusuk
setelah separuh malam menggenang di dadamu
aku jadi serupa bocah kecil yang meraupi udara
mengucap basmalah dengan tergesa
lalu mencuri balon-balon sabun dari mulutmu yang setia

kau hampir serupa ibu,
di matamu aku menyusu

di seberang jalan, ada rel kereta yang memanjang
tanpa kereta
hanya tubuhmu yang bergegas dengan asap di kepala
menjemput nasib
serupa gelas-gelas teh hangat yang kita hirup di warung kecil bernama sunyi
serupa balon-balon sabun yang pecah di tanganku setiap pagi

kau berkata “tiba-tiba aku rindu rumah”
tiba-tiba, aku tergesa untuk tiada

saat pagi masih menyisakan detak jantungnya yang berdebar cemas
kita menyusun jarak yang tak terukur dari malam yang usai,
bagaimana bisa jalanan berasap ini kita tempuh dengan tawa yang rinai?
“kita mesti rebah” katamu
aku mencuri kolong
kau mendaki ranjang
sebelum rel-rel kereta di depan terus memanjang
menembus dadaku,
menyusuri jalur kereta di matamu

Lamongan, Januari 2012

4 komentar:

Hening Bayu Semesta mengatakan...

Numpang baca sambil belajar menulis puisi. Salam..

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

thanks mas hening bayu semesta..
smoga betah di sini dan sering2 mampir... :)

Anonim mengatakan...

hai penyair,

begitu ya kabarmu? (lho)
aku suka tulisanmu yg ini

salim.. :)

eL.

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

eellll.... :D

wa'alaikum saliimmm... hahaha...

kabar tubuhku masih tetap baik. ente gmn?