kelak, aku tak tahu apakah benar pertemuan akan selalu mencipta jarak. saat ini aku hanya benar-benar tak ingin itu terjadi. kita berbelok. kau menjelma tiang lampu. aku kunang yg membatu. berjatuhan serupa gerimis di dadamu. sebenarnya, sejak pertama aku ingin menyumpahimu. kenapa pula kita mesti bertemu semacam ini. kelak, entah aku atau kau yg mesti jadi pencuri. tapi, ambilah apapun yg bisa kau miliki...
******************
tuhan, luka dalam sajakku bertubi-tubi menujumu lantas, malam yang entah kelak gelas-gelas kosong tanpa arak atau sajak, ku tenggak di rumahmu, aku pulang tanpa wajah di ranjangmu, ku lucuti satu persatu tubuhku aku demam bergetar-getar seperti sejak mula kelahiran sampai ajal dadaku ini zikir detak menghentak-hentak tanpa hitungan, tanpa bilangan
******************
su, ranjang menggait demam kita. bagaimana bohlam-bohlam itu turut pula mengucurkan bau cahaya dari matamu. lihatlah aku telanjang, su. kutanggalkan satu-satu nama dan ingatanku. tapi langit-langit atap terus melipatmu, su. menjadi semacam burung-burung origami dengan bohlam di perutnya. berpendaran aroma purba semacam ajal itu, su.
0 komentar:
Poskan Komentar