Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

5 Januari 2009

Orang-Orang Bermata Batu



Selayaknya lewat jemariMu aku tulis semacam puisi
Sajak tentang luka karena dada kita yang renta
Aku tak hendak berkata bahwa aku sang penebar hujan
Tapi lihatlah gerhana di korneaku
Sedang orang-orang bermata batu tengah berbisik-bisik curiga
Lalu mereka kirimkan luka-luka baru di alas sujudku

Sementara dalam tafakurku lihatlah aku tak menangis bukan?

Semarang, 30 Desember 2008

3 komentar:

atika silmi mengatakan...

iyya mas,,
meT taun baRu jg ,,


gmana Uas?
LancaR??

negeri hujan mengatakan...

mas galih : entah bagaimana aku akan menyelam kedalam tulisanmu. namun yang pasti, jujur...memey tak dapat memastikan/menentukan titik temu dari tulisan mas galih. bukankah seperti yang mas tau...fikiran kita selalu mengalami korelasi yang mungkin cukup serius, hehehe. dan setiap memey baca tulisan mas galih ada penyampaian didalam penyampaian dan memey ikut pula punya penyampaian yang tentunya mungkin sangat bertolak belakang. tapi bukankah setiap tulisan memiliki Tuhannya sendiri. begitupun sebuah interaksi penulis dengan pembaca yang memang tak selamanya berada dalam lindungan keyakinan yang sama. jika tidak begitu...takkan ada karya yang benar-benar terbaik diantara yang baik.

ya, adakalanya pembaca melalui jalur yang berbeda untuk berpapasan langsung dengan keyakinan si penulis, hingga keduanya menemukan titik temu yang serupa meski melalui jalan yang berbeda.

memey tak bisa banyak komentar, karna memang untuk saat ini, memey tanpa sengaja menyelipkan waktu dikolong meja dan akhirnya membawa memey ke kota.kembali ke kota,mas!mas, sebagai pembaca mungkin hanya ini untuk sementara komentar memey. tentunya untuk mas galih "semoga tetap kreatif dan sukses!!"

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

ah tak apa dik. aku tak memaksamu menemukanku pada jalan yang sama. apa yang kau baca adalah apa yang di katakan puisi itu.
kadang ketikia membaca puisi sendiripun aku terjebak pada teka-teki lain yang mengarahkanku pada jalur yang berbeda. karena daat aku membaca ulang adalah aku sebagai pembaca.
bukankah banyaknya pembacaan yang beragam dan tak selalu sama yang membuat puisi semakin kaya.
sukses juga buatmu.