Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

19 Januari 2009

Di Atas Sajadah Batu



di atas sajadah batu

kita tak henti melenakan rindu

betapa keras kepala beradu

dan tanah betapa rela menerima darah

seperti sungai mengendapkan prahu

mengalirkan bunga-bunga salju

juga sayap-sayap ibu

ke muara itu

angkuh

dan biru


di atas sajadah batu

kita terus mentasbihkan bisu

yang kekal merayap di daun

di lembayung kering

juga telinga kita enggan menerima bising

Kau menantiku dalam wening

aku mentahlilkan nama abu-abu


Semarang, Maret 2008
puisi ini masuk dalam antologi bersama "Aku Ingin Mengirim Hujan"

6 komentar:

nanoq da kansas mengatakan...

....di atas sajadah batu
kita terus mentasbihkan bisu....

ah, sebuah narasi yang bikin aku cemburu. hehehe selamat berkarya. selalu!

atika silmi mengatakan...

boleh kug mas, nyante ajj. .
betewe sori Lama repp,,
baru semped oL soaLna,,
biz uas,, hhehe. .

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

nanoq de; makasih bli. tapi aku juga cemburu dengan tulisan-tulisannya bli. bener bli.

atika; makasih dik,..

mantra_rindu mengatakan...

KOWE KI NGOPO TOH,NDU???

mantra_rindu mengatakan...

di atas sajadah yo sholat. hati2 pas sujudnya ntar kena batu

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

mantra rindu; wah kena batu lah batukku dadi cepet ireng cak?