
AKU INGIN KESANA, mengendapkan laraku. Jan 3, '09 11:09 AM
for everyone
Category: Other
AKU INGIN KESANA, mengendapkan laraku.
[catatan ngawur untuk puisi-puisi Pandu]
[1]
Biasanya anak-anak muda yang pernah jatuh cinta, sedikit banyak pernah menulis apa saja yang dirasakannya dimana saja dan dalam bentuk apa saja. Salah satunya adalah puisi. Biasanya pula, puisi yang ditulis mendayu-dayu, lembut dan passion banget. Puisi jenis seperti ini bisa meloncat-loncat liar, tak terdeteksi oleh estetika bahkan kadang lebih bicara tentang remeh temeh, berkaitan dengan yang dirasakannya. Tapi bagaimana jika sebuah puisi yang ditulis ketika anak muda itu telah melewati hal-hal seperti itu, dan menemukan dunia baru yang sama sekali tidak dimengerti oleh orang lain dan mungkin juga dirinya sendiri?
Apa yang mungkin dipilih dalam pengolahan kata-kata yang dikumpulkan dalam sajak yang diciptakannya? Apa yang ingin disampaikannya ketika puisi itu sudah menjelma utuh di depan pembacanya?
Pandu, saya kenal belum begitu lama, yang saya tahu dia mahasiswa sastra dan bergabung dengan kelompok teater semarang. Perkenalan kami sangat aneh, pernah bertengkar dan tiba-tiba saja begitu akrab, dan tahu-tahu menunjukkan puisi-puisinya. Saat itu ia menunjukan puisinya yang ditulisnya semasa SMA, sejak itulah saya mengerti ia sarat dengan kontemplasi. Saya tidak menduga ketika membaca puisi SMA itu ditulis dengan penuh perasaan dan sangat berbeda dengan puisi anak-anak SMA lainnya. Saya melihat ia begitu dewasa dan seperti sudah begitu dekat dengan cinta itu sendiri.
Dan suatu hari ia menunjukan puisi-puisi terkininya, sarat metaforis yang manis. Metafora yang dia keluarkan langsung mengikat kuat dalam pilihan katanya. Meski untuk beberapa hal ia masih kebingungan dalam menggunakan metafora tersebut, tapi saya yakin bahwa itu adalah berdasarkan pengalaman empiris yang dia alami dan akan semakin matang. Tengoklah sajak lelaki dan hujan saat desember.
Seorang lelaki mengenakan tubuhku lewat desember yang basah
Berbiak di depan pintu dan mengguruiku
Tentang batu-batu berwarna merah
Aku serupa arwah dalam kabut gaib
Berwajah sakit
Seperti kita ketahui bahwa kata atau bentuk bahasa mempunyai relasi dengan dunia nyata. Sehingga istilah referensi digunakan untuk merelasikan bahasa dengan yang bukan bahasa, di lain hal ada relasi unsur bahasa dengan pengalaman seseorang. Relasi inilah yang disebut pengertian (sense) (1). Maka di dalam puisi Pandu berlalu lintas relasi antara bahasa dengan dunia pengalaman dan relasi antara unsur-unsur bahasa itu sendiri. Seorang lelaki mengenakkan tubuhku, mempunyai makna yang sulit dipahami. Pada kalimat tersebut ia seperti bercerita tentang persoalan psikologis yang kuat. Ada semacam persetubuhan penting didalam pengalaman hidupnya lewat desember yang basah.
Saya kemudian menangkap ada sebuah harmonisasi yang disepakati sebagai kata yang bisa mengungkapkan gagasan atau merangsang ide. Jika disadari bahwa kata adalah penyalur gagasan tersebut maka kalimat awal dalam puisi itu membuka ruang baru untuk menstimulus siapa saja pembacanya ke arah imajinasi lain. Kalimat selanjutnya, berbiak di depan pintu dan mengguruiku, tentang batubatu berwarna merah, adalah sebuah kematangan dalam pemilihan kata/diksi (2). Maka suatu kekhilafan jika dalam puisi beranggapan bahwa pilihan kata adalah persoalan sederhana.
Saya masih percaya bahwa persoalan ini bukanlah persoalan yang bisa terjadi dengan sendirinya atau tidak perlu dipelajari. Sebab sebagaimana keseharian, banyak kita jumpai orang-orang yang kesulitan mengungkapkan maksudnya dan miskin variasi bahasanya, juga kita jumpai orang yang boros dan mewah mengobralkan perbendaharaan katanya namun tidak ada isi yang tersirat di balik kata-kata itu. Maka ketika puisi menjadi sebuah hegemoni untuk mengungkapkan kasunyatan dalam bahasa alegoris, semua itu sangat diperlukan.
Aku serupa arwah dalam kabut gaib, berwajah sakit. Sebenarnya sampai kalimat ini, saya sudah merasakan kecukupan. Ibarat disuguhi Le paillard yang lezat tiba-tiba saya harus menghabiskan beef stroganoff, sirloin, tambah Roast beef platter dan semua harus kutelan dalam hitungan itu juga. Maka secara pribadi saya kembali membuka ruang baru dengan siapa saya berhadapan kali ini.
[2]
Asu! Kok aku dadi serius ya? Puisine Pandu kok diseriusi! Mumet malah! Membaca puisi Pandu, saya seperti diajak rekreasi dalam dunianya yang lain. Dunia yang jarang dijumpai oleh anak-anak muda jaman sekarang. Saya mendapati seorang anak muda yang begitu tekun melakukan kontemplasi. Saya tidak akan menghakimi apakah dia melakukannya dengan benar atau tidak, namun ia bersikukuh dengan apa yang tengah dijalani saat ini. Barangkali ia sudah menemukan kebenaran yang memang didambanya setiap saat, bahkan saat ia mengalami sebuah perjumpaan ataupun perpisahan dengan sesuatu yang dicintainya.
Di dalam puisi-puisi Pandu saya tidak mendapati setiap katanya diawali dengan biasa saja, kata yang dipilihnya adalah pembentukan karakter hidup dia sendiri. Saya tidak menemukan kata-kata yang sia-sia. Barangkali kelemahannya adalah ia belum mendapati sebuah acuan yang pas antara bentuk dan referen (3) sehingga menimbulkan makna atau referensi yang timbul akibat hubungan bentuk itu dengan pengalaman non linguistik atau barang-barang yang ada di alam. Semisal ada kalimat nares, maka tak banyak yang tahu. Ia harus diberi petunjuk dengan sejumlah referen hidung, telinga, matahari atau gunung. Untuk membantu mengetahui makna itu maka ditunjukanlah barang yang sesuai dengan itu, yaitu hidung.
Lha, saya sendiri tidak tahu, apakah Pandu juga mengerti tentang hal ini, seharusnya sebagai mahasiswa sastra tentu yo ngerti banget. Atau jangan-jangan ia jarang berangkat kuliah? Nah lo! Saya pikir ini adalah jebakan ketika membuat puisi, meski saya percaya bahwa puisi akan lebih dinikmati ketika keluar dari rasa-nya, namun akan lebih baik jika mengalami keseimbangan dalam hal apapun. Sehingga ketika disuguhkan ke pembaca, serupa kesempurnaan esetetika itu sendiri, puisi adalah sebuah spiritual achievement yang layak konsumsi.
Tak saya pungkiri bahwa puisi Pandu mempunyai daya stimulus untuk memulai sebuah perenungan. Lewat pengkayaan kata yang dimilikinya, ia menawarkan sebuah rekreasi pengalamannya. Dalam puisi SAAT MENGAJI kita akan dibawa pada sebuah pengalaman spiritual yang aneh. Barangkali pada hijaiyah awal, ia sudah menemukan apa yang diimpikannya saat masih kanak-kanak. Sebagaimana judul yang dipilihnya saat mengaji sangat berbunyi proses ia melakukan iqra. pembacaan yang dialaminya inilah yang kemudian membuka curhat-nya lewat puisi ini.
Maka pada sub judul ayat-ayat api, saya menemukan dirinya pada sebuah ruang dimana ia merasa menjadi kaf fa’ ro’. Bagi saya, adalah sebuah keberanian menyebut dirinya sendiri kafir! Inilah sebuah proses awal bagaimana memahami iqra itu secara konsisten. Sebagaimana keinginan purba manusia yang selalu mencari kebenaran, maka Pandu dalam puisi ini bercerita menemukan kebimbangan yang dijalaninya, seorang lelaki melemparkanku ke dalam kitab abu-abu, bahkan padanya aku tak tahu hendak kemana puisi ini menuju.
Lha saya sendiri hanya tersenyum saja, apapun proses seperti itu memang layak dijalaninya. Dalam hati saya bertanya, kenalin dong lelaki yang melemparkanmu itu.hehehehehehe.
[3]
Puisi Pandu memang tidak akan segera mudah dipahami, selain mempunyai kekuatan semantik seperti yang saya sebut diatas, ia kadang juga terjebak dalam flooding yang dia ciptakan sendiri. Ada semacam ketidakpercayaan pada dirinya untuk menghentikan kata. Sehingga pada beberapa puisi, maksud yang harusnya sudah tersampaikan menjadi bias kembali. Pembaca akan berputar-putar pada sebuah estetika lain lagi. Maka jika puisi menjadi alat ungkap, maka Pandu tidak bercerita secara normal.
Namun saya yakin, bahwa dengan waktu ia akan bisa lebih jeli untuk kembali memilih kata yang akan ia ungkapkan. Yang patut disadari adalah bahwa makna kata tidaklah statis, perubahan inilah yang akan dihadapkan kepada kita tentang kesulitan-kesulitan baru bagi pemakai kata. Sebab itu untuk menjaga pemilihan kata, sebaiknya setiap penutur bahasa memperhatikan perubahan-perubahan makna yang terjadi.
Bagi saya pribadi, puisi Pandu ingin bercerita banyak hal konteplatif, meski dibalut dengan relasi-relasi yang kadang menyebal dari itu. maka saya selalu bisa menikmati puisinya. Sambil nggaya sok tahu bisa menangkap apa yang diceritakannya, maka aku ingin kesana, mengendapkan laraku. Bukankah semua orang mengira tidak mempunyai lara, padahal rumahmu tidak mencuri apapun darimu. Tapi harus kemana aku mengendapkan laraku? Wasyah! [agunghima]
1. Dalam pengertian sehari-hari disebut juga makna, entah makna kalimat, makna structural dan sebagainya. Bidang inilah yang disebut dengan semantic structural yang seringkali dipertentangkan dengan semantic leksikal.
2.Dalam pengertian ini jauh lebih luas daripada apa yang dipantulkan kata-kata saja, tidak melulu kata yang mengungkapkan suatu gagasan atau ide. Meliputi juga fraseologi yang mencangkup kata dan pengelompokannya, gaya bahasa sebagai bagian diksi yang bertalian dengan ungkapan individual atau karakteristik bernilai artistic tinggi.
3.(barang yang diwakilinya) Menurut odgen dan Richard dalam the meaning of meaning, symbol adalah unsure linguistic (kata atau kalimat), referen adalah obyek (dalam dunia pengalaman), sedangkan referensi atau oikiran adalah konsep. Menurut teori itu tak ada hubungan langsung antara symbol dan referen, hubungannya harus melalui konsep.
Gp, 2 jan 09; 03.50”
Tulisan ulasan ini dapat di lihat di; http://agunghima.multiply.com/
Ditulis untuk diskusi kecil pembacaan karya puisi Pandu. Retro Studio, 2 jan 09
Buat Mas Agung Hima, matur suwun ulasannya.