Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

8 April 2010

Aku Daun Pintu Rumahmu

Aku pintu rumahmu, dalam lelah yang panjang selalu terjaga dan menungguimu di dalam. Biar selalu terlewati aku tak pernah perduli. Sesekali kau datang, menghampiriku, menyandarkan punggungmu ke tubuhku, lalu kau pandangi senja yang semakin puncat dan makin tak hangat. Takkan ada yang datang hari ini, karena sebagai pintu aku tahu siapa yang akan mengunjungimu. Lewat angin yang lesap dan berjalan teramat cepat, aku mencium bau takdir atas dirimu. Nama-nama yang dikirim cuaca. Tapi tidak untuk hari ini. Tapi kau masih menunggu, seperti tak rela pada sepi. Dalam keyakinanmu selalu kau nyatakan bahwa kaulah sepi itu sendiri dan hanya ada kau, padahal selalu ada aku.

Sebagai pintu, akulah yang memilihkan tamu-tamu yang mendatangi rumahmu. Lalu jika ada luka, kau dengan mudahnya mengibaskan tubuhku teramat keras. tapi aku tetap setia. berdiam di muka. membuka dan menutup begitu saja. Sampai kau punya kisah dan mengakhirinya dengan tubuhku yang patah.

“Barangkali besok ada yang mengetuk sekali lagi.” Ucapmu
“Besok tak ada siapa-siapa” bisikku dengan sedikit berderit. Lalu kau pergi, kembali menikam mimpi di kamarmu.

Kau kira aku tak punya mimpi?
Yah. Aku memang lelah bermimpi. Tentang rumah yang tenang dan kau datang bersama senja, bukan untuk menunggu tapi menatap pendar hangat dengan apapun yang kau miliki saat ini.
Sekarang sudah mulai dingin dan tutuplah aku, seperti kau tutup kelopak matamu, sampai kelak kukirimkan kabar atas mimpimu.

“Besok akan ada yang mengetuk pintumu dan aku siap patah sekali lagi”

Semarang, 22 Maret 2010

2 komentar:

redthundie mengatakan...

makin keren mas,

saluutt...



redthundie.blogspot.com

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

makasih mas...

salut jg buat km yg masih giat nulis. ^^