Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

4 Juni 2009

Secangkir Kopi dan Puisi

Setiap pagi, selalu ingin ku cipta puisi
Tentang reranting kering, gerimis juga secangkir kopi
Kita berdebat tentang kabut
Mimpi-mimpi yang lenyap bersama kepul asap di tungku
Kurebus kenangan di dadamu

Matahari tak mampir di sini
Hanya menetap di keningmu
Lalu mati

Kita tenggelam dalam keremangan
“Kau lihat?”
Begitu senyap kita mengeja
Perbincangan kita takkan usai

Secangkir kopi di lidah pagi
Lebih manis dari puisi


Semarang, kampus sastra 28/10/08

4 komentar:

suwung mengatakan...

kalo diriku kok manis puisinya ya?

Ivan Kavalera mengatakan...

Hmmmm..puisi, kopi, pagi. mengagumkan, kawan. singgahlah di rumahku sesekali. akan kusuguhkan kopi dan bincang-bincang tentang apa saja. termasuk puisi. juga puisimu yg akan dibacakan di program sastra Ekspresi RCA 102, 5 FM.

Sang Lintang Lanang mengatakan...

tukang becak aja tahu.. kalo kopi itu lebih manis dari puisi.. :)

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

@suwung: coment yang manis mas,..

@ivan Kavalera: tentu saya akan mampir mas ivan kavalera. trimakasih undangannya juga atas di bacanya puisi saya di RCA. makasih ya,..

@Lintang lanang: asem ya,.. mo tak ganti kata setubuh aja.