Setiap pagi, selalu ingin ku cipta puisi
Tentang reranting kering, gerimis juga secangkir kopi
Kita berdebat tentang kabut
Mimpi-mimpi yang lenyap bersama kepul asap di tungku
Kurebus kenangan di dadamu
Matahari tak mampir di sini
Hanya menetap di keningmu
Lalu mati
Kita tenggelam dalam keremangan
“Kau lihat?”
Begitu senyap kita mengeja
Perbincangan kita takkan usai
Secangkir kopi di lidah pagi
Lebih manis dari puisi
Semarang, kampus sastra 28/10/08
Pantai Mutun
5 tahun yang lalu
4 komentar:
kalo diriku kok manis puisinya ya?
Hmmmm..puisi, kopi, pagi. mengagumkan, kawan. singgahlah di rumahku sesekali. akan kusuguhkan kopi dan bincang-bincang tentang apa saja. termasuk puisi. juga puisimu yg akan dibacakan di program sastra Ekspresi RCA 102, 5 FM.
tukang becak aja tahu.. kalo kopi itu lebih manis dari puisi.. :)
@suwung: coment yang manis mas,..
@ivan Kavalera: tentu saya akan mampir mas ivan kavalera. trimakasih undangannya juga atas di bacanya puisi saya di RCA. makasih ya,..
@Lintang lanang: asem ya,.. mo tak ganti kata setubuh aja.
Posting Komentar