Setiap pagi, selalu ingin ku cipta puisi
Tentang reranting kering, gerimis juga secangkir kopi
Kita berdebat tentang kabut
Mimpi-mimpi yang lenyap bersama kepul asap di tungku
Kurebus kenangan di dadamu
Matahari tak mampir di sini
Hanya menetap di keningmu
Lalu mati
Kita tenggelam dalam keremangan
“Kau lihat?”
Begitu senyap kita mengeja
Perbincangan kita takkan usai
Secangkir kopi di lidah pagi
Lebih manis dari puisi
Semarang, kampus sastra 28/10/08
Pantai Mutun
5 tahun yang lalu