Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

1 Desember 2008

Pesan Sebelum Maghrib


Lihatlah mata magrib tajam pada reranting
Saat kita harus melepaskan segala onak
Pada gelombang yang sepenuhnya menghantam
Aku memintalkan kesumat yang tak reda
Pada trotoar yang diam saja di telapak kakimu,
Tapi lemah sekali pamitmu pada muara di dadaku
Sedang gerimis ini takkan reda dan takkan pernah reda
Ciumlah tajam-tajam kuku di depanmu
Sebelum sesabit menetakmu saat malam
Saat segala menghantam
Dan ku pasrahkan mimpi –mimpi kecilku tertusuk di mata maghib yang tajam

4 komentar:

atika silmi mengatakan...

iya mas Pandu,,
mav baru bisa ngasi komen,,
aQ sibug banged 2 minggu kmaRen,,
ada peLantikan soaLna,,


wahh,,
kaLu sastRa ind aQ ngga punya kenaLan. .

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

oh iya g pa2 sante aj dik tika. pelantikan? wah selamat y telah di lantik. he2x

negeri hujan mengatakan...

atas nama tuhan....
sebelum embun pecah dan membelah sketsa wajahmu pada jendela juga angin yang remang, malam tak sepenuhnya diriku.

diam-diam ada yang menanam kata dengan jari-jarinya yang patah.
maka kusebut hidup ini adalah Tuhan, mengatup dikeningku.

"mas galih...maafkan memey atas waktu yang tak pernah reda. tapi pasti! memey akan tepati janji memey.

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

atas nama Tuhan pula,..
kau bahkan takkan tahu aku mengatakan apa dalam diam.

kita telah sama-sama bertaruh...

"tak apa dek memey. aku tahu kau pasti menepati janji"