Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

11 Februari 2010

Dinding yang Retak di Bulan Januari



dinding-dinding menguburku
pada jejak yang semakin padat
dalam lindap januari
yang jatuh di atap-atap
aku kembali retak

"Siapa melukis wajah di sini
dengan cat berwarna usang dan sepi?"

musim terlalu lembab untuk kita ziarahi
dan kita menjadi lapuk di baris puisi
sampai di akhir bulan ini
gerimis semakin mengikis
kau datang dengan denyut yang hampir habis
tunggulah, biar kurebus sebentar
air hangat dan bulan perak
dan kuhidangkan saat gigil mengendap
sampai percakapan memilin kita
saat malam semakin sekarat

duh yang kekal di purnama kesumba
duh yang ombak di baris usia
duh yang menghentak di muka sajak
duh yang terlumat dalam segala jejak
duh yang selalu sepi saat kembali
duh yang merupa di gema doa
duh yang terlempar di halaman pertama

"Siapa melukis wajah di sini
dengan cat berwarna usang dan sepi?"

sampai khatam usia waktu
aku dinding dengan coretan dari tanganmu
kikis dan semakin retak
sampai habis kelak
ku kenakan wajahmu
kau kenakan tubuhku


Semarang 30 Januari 2010

4 Januari 2010

hikayat kitab air mata



1
Dari kalimat yang tak mampu kita tepis
inilah mula segala jejak
sejak kisah-kisah tak habis kau baca
sejarah atas namamu tertulis juga
dan sunyi yang merayap di dada
bergetar dan patah di halaman pertama

“entah sampai bilangan ke berapa kita sama-sama tanggal?”
sedang kalimat ganjil itu
telah merubah kita menjadi huruf yang janggal

2
Di lembar berikutnya hanya ada duka
mengental di sudut waktu
juga di kerut-kerut wajahmu
betapa dunia terlampau tamak
melempar kita pada ranah tandus tanpa hujan
kecuali riwis air mata orang-orang kehilangan
di kota penuh kutuk dengan langit merah
sewarna darah
orang-orang di bawah selalu memintal gelisah
tentang leher siapa lagi yang harus merapat di mata pedang
demi sepotong roti yang bisa di makan,
angin-angin padang
mengeringkan tubuh orang-orang gagal,

kitalah yang sama-sama gagal
menyusun hidup
di runcing logam

di batas kota itu
tulang belulang kita
tak sempat di tanam

3
Lembar ini hanya ada kosong
entah kenapa tak ada apa-apa
selain sebidang air mata
dan lewat tubuhku yang pena
kau lukis sketsa bulan perak pasi
rumah kita dulu
menggenapi rindu dan sunyi
lalu kau memilih tenggelam
menjadi ikan
tak lelah menatap pendar cahaya
dan air matamu kembali
memenuhi halaman ini

4
Huruf-huruf pulang dari kembara
tapi tembang-tembangnya
tak putus-putus bermuara di dada

5
Pada akhirnya sepi juga yang berkuasa
ayat-ayat tak tuntas kubaca
hanya namamu yang bergetar
dan almanak-almanak kembali tanggal
sebelum menutup kitab itu
bilangan-bilangan ganjil ini
hanya Kau yang menggenapinya

Semarang, 14 Desember 2009

24 Desember 2009

Bulan di Tungku Ibu

siang ini lahir dari kepul asap di tungku ibu
ia menanak doa-doa juga air mata
saat bocah-bocah menahan perih di lambungnya

siang ini teramat terik untuk menangis
sedang gerimis di dapurku
adalah rintik tak habis-habis
mencipta lautan dan kerinduan tentang ombak
tempat bocah-bocah pantai berlayar dan menjaring bulan
tapi yang tersisa hanya ikan
dan tulang belulang bapak-bapak mereka

bulan telah matang di tungku ibu,
di nyeri nyilu lambungku

Semarang, 23 Desember 2009

9 Desember 2009

Ibrahim

Ibrahim
seperti dulu
kau cecap api
dari sebilah kapak
yang tak tuntas
menebas
leher-leher berhala
dan kau kalungkan di nasib anakmu juga
cepatlah tebas
dan langit yang menampung air matamu
sempat mengajari anak itu
mengeja nama Tuhanmu
hingga nasibmu tak seperti nasib bapakmu
dan mata air mengucur lewat kakinya
itulah air mataku yang tak kunjung tahu
bagaimana merapal doa
sedang denyut waktu makin membuat kita alpha
dan kapakmu itu kelak mampir juga di urat-urat leherku

adakah waktu yang sama-sama kita kuliti?
sampai benar-benar habis aku
di riak-riak ayat terakhir yang kau baca

Semarang, 28/11/09

2 November 2009

Malioboro, Saat Subuh Hampir Habis

sampai harus kita habisi subuh di sini
sudut kota
monumen atas nama sejarah
terukir lewat tinta darah
dan pada perjalananlah
kita terlempar di sini
malioboro
aku kembali
di lindap pendar lampu
dan malam menggeliat di atas bangku
sebelum khatam kugenapi riwayat
kisah tapak kakiku yang berkarat
orang-orang dengan wajah memucat
menyapa dalam tatap jarak keasingan
kamilah kini yang memendam kesumat

malioboro
di sudut wajahmu pernah kucatat
di sinilah peziarah tumpah rindunya
dan kami kembali menggenapi sepi
dalam sorak dan luka
tapi wajahmu itu tetap saja sunyi
kukuliti di sudut sepi

Jogjakarta, 01/11/09