Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

15 November 2010

lalu aku menjadi terlampau

lalu aku menjadi terlampau kemarau, saat kau kembali mencintaiku
dengan galau.
lalu aku menjadi terlampau laut, saat namamu kian luput kusebut
tubuhmu meluruh menjelma kabut.
lalu aku menjadi terlampau belantara, saat gemetar nafasmu kembara
tak lagi kenal muara.
lalu aku menjadi terlampau debu, saat kursi-kursi taman dari tubuhmu gemetar
dalam hujan, dalam partitur rindu.
lalu aku menjadi terlampau air mata, saat doa-doa kita tak lagi menunjuk peta
perjalananmu lewat ruas-ruas jalan urat darahku akankah sia-sia?
lalu aku menjadi terlampau
terlampau
lampau

Semarang, 15 November 2010

13 November 2010

Sebuah Fragmen Panggung

lalu, panggung inipun kembali
sepi
gemetar lampu
melebarkan bayang-bayang tubuhmu
merayapi meja kursi
atas resah tak bertuan
atas percakapan yang meruncing tajam
adalah hanya kata yang kelak akan kembali
sunyi
menyusuri panggung sepi,
kotak-kotak properti,
tumpukan naskah,
dan lakon yang terlambat
dipentaskan

Semarang, 3/11/2010

11 November 2010

Rumah

kita haruslah pulang
menyibak daun pintu
menekuri peta yang disisakan waktu
pada dinding-dinding retak


sedetik tadi kita telah menjadi sejarah
menjadi barisan sepi yang tak pernah istirah
maka akupun tetap harus kembali
mencarimu di antara riak debu
di antara lipatan-lipatan musim yang membuatku terus membatu

maka aku pulang,
menuju rumah berbau gaib di dadamu
yang berdetak sepi
yang selalu membuatku pergi
untuk kemudian
memaksaku kembali


Lasem, 07/11/2010

Tentang yang terduduk di bangku penumpang dan bangku jemputan II

aku terduduk,
kepul rokok, koran lokal,
secangkir kopi dan butir-butir rindu yang mengendap.
sungguh ini sepi yang kucipta sendiri
yang tak tuntas
lalu kita mencecap getir dari wajah kereta itu


peluit kereta, doa-doa, keberangkatan, kelahiran
kematian
gerbong keranda
para pelayat meronce kamboja
memilin namamu namaku
dari sepi yang di sisakan bangku-bangku itu

Semarang, 03/11/2010


Tentang yang terduduk di bangku penumpang dan bangku jemputan

lalu saat pintu-pintu kereta itu mengatup
suara peluit,
tubuh-tubuh hilir mudik,
sisa nafas yang tertahan di lokomotif
kau akan mengerti
betapa sepi peron ini.


Semarang,02/11/2010